Dinsdag 21 Januarie 2014

Tugas Psikologi II (Teori Medan)


                                   
TUGAS PSIKOLOGI II 
“Pengertian, Kegunaan dan Manfaat Teori Medan”
Dosen Pengampu : I Ketut Pasek Gunawan, S.Pd.H.  



 


IHDN DENPASAR

OLEH :

Ni Luh Putu Sri Musiartini Seriawati
10.1.1.1.1.3883
III/PAH B


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI
DENPASAR
2011



KATA PENGANTAR

“Om Swastyastu”
          Puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Widi Wasa, Karena atas asung kerta wara nugrahaya-Nya, sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudul “Pengertian, Penggunaan, manfaat dari Teori Medan”. Dengan baik dan tepat waktu.
          Penulis menyusun makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah “Psikologi II”. Dan penulis juga ingin mengetahui tentang pengertian, penggunaan serta manfaat dari Teori Medan dalam preses pembelajaran.
          Dalam menyusun makalah ini banyak pihak yang membantu. Diantaranya bapak  I Ketut Pasek Gunawan, S.Pd.H. Selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi II, penulis menyampaikan terimakasih kepada beliau karena atas bimbingannya penulis bisa menyusun makalah ini dengan baik. Dan ucapan terimakasih kepada teman-teman dan keluarga atas kerjasama dan bantuannya.
          Penulis menyadari bahwa makalah yang penulis susun ini belum sempurna, maka dari itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi penyempurnaan makalah yang akan disusun selanjutnya. Semoga makalah yang sederhana ini dapat berguna bagi para pembaca.
          “Om Santhi, Santhi, Santhi, Om”      


Singaraja, 6 Desember 2011

                                                                                                           Penulis             
         
         

DAFTAR ISI
                           
KATA PENGANTAR……………………………………………………        i
DAFTAR ISI……………………………………………………………..         ii
BAB I  PENDAHULUAN………………………………………………        1    
1.1.    Latar Belakang…………………………………………………….          1
1.2.    Rumusan Masalah…………………………………………………           2
1.3.    Tujuan…………………………………………………………….            2

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………        3
2.1     Pengertian Teori Medan……………………………………………         3
2.2     Penggunaan Teori Medan………………………………………….          4
2.3     Manfaat Teori Medan……………………………………………..           8    
         
BAB III PENUTUP………………………………………………………        10                          
3.1. Simpulan…………………………………………………………….          10
3.2. Saran…………………………………………………………..........           10

DAFTAR PUSTAKA
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   
BAB I

PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
          Dalam dunia Pendidikan proses belajar mengajar menjadi suatu hal yang sangat diperhatikan. Banyak hal yang menjadi bahan perhatian dari proses belajar-mengajar tersebut diantaranya penggunaan berbagai metode media bahkan menggunakan ilmu psikologi pendidikan demi mencapai proses belajar-mengajar yang optimal dan relevan sesuai dengan apa yang di harapkan bersama.
          Maka dari itu dengan adanya psikologi pendidikan baik pendidik maupun peserta didik dapat saling mengerti dengan keadaan tingkah atau perilaku peserta didik dalam dunia pendidikan. Psikologi ialah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Maka dari itu pendidik perlu mengadakan pendekatan kepada peserta didiknya dengan menggunakan teori-teori dalam psikologi pendidikan, salah satunya Teori Medan yang di populerkan oleh Kurt Lewin. Dimana teori ini lebih menjelaskan bagaimana motivasi seseorang peserta didik dalam mengikuti suatu proses belajar-mengajar. Karena dalam dunia pendidikan motivasi sangat diperlukan agar seorang siswa dapat semangat mengikuti suatu proses pembelajaran. Dengan adanya motivasi-motivasi tersebut peserta didik pasti akan memiliki motif-motif untuk mencapai sesuatu dan berusaha untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam menggapai hal yang diinginkan oleh seorang peserta didik.

1.2     Rumusan masalah
1.2.1  Apa pengertian dari teori Medan?
1.2.2  Bagaimana penggunaan teori Medan dalam proses pembelajaran?
1.2.3  Apa manfaat teori Medan?

1.3     Tujuan
1.3.1  Untuk mengetahui pengertian dari teori Medan.
1.3.2  Untuk mengetahui penggunaan teori Medan dalam proses pembelajaran.
1.3.3  Untuk mengetahui manfaat teori Medan.

 
BAB II
PEMBAHASAN


2.1     Pengertian Teori Medan.
          Kurt Lewin, bapak teori medan ini, mula-mula adalah pengikut aliran  psikologi Gestalt mazhab berlin, akan tetapi yang kemudian mengambil jalan sendiri, terutama dalam penelitian mengenai motivastion.
          Teori medan memandang bahwa tingkah laku dan proses kognitif adalah suatu fungsi dari banyak variabel yang muncul secara simultan (serempak). Lingkungan dipandang sebagai gejala yang saling mempengaruhi.  Perubahan pada diri seseorang bisa mengubah hasil keseluruhan.
          Kurt Lewin (1890-1947) menjelaskan bahwa tingkah laku seseorang dalam suatu waktu ditentukan oleh keseluruhan jumlah fakta psikologis yang dialami dalam waktu tersebut. Menurutnya, fakta psikologis itu merupakan sesuatu yang berpengaruh pada tingkah laku, termasuk marah, ingatan kejadian masa lampau, dan lain-lain. Semua fakta itu menjadi ruang lingkup kehidupan seseorang. Beberapa fakta psikologis akan memberi pengaruh positif atau negatif pada tingkah laku seseorang. Keseluruhan gejala itulah yang akan menentukan tingkah laku seseorang dalam suatu waktu. Tetapi hanya pengalaman yang disadarinya yang akan memberi pengaruh. Perubahan pada fakta psikologis akan menyusun kembali seluruh ruang kehidupan.
          Dalam situasi belajar seseorang menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan dalam mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya.
          Menurut teori ini belajar adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Agar pada diri anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan pelajaran harus menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat seseorang bersemangat untuk mengatasinya. Bahan pelajaran yang baru banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat seseorang tertantang untuk mempelajarinya.
          Hal ini juga memberikan tantangan bagi seseorang untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif dan negatif juga akan menantang seseorang dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukuman yang tidak menyenangkan.
          Jadi, tingkah laku seseorang  merupakan perubahan-perubahan kontinyu dan dinamis. Seseorang berada dan berkembang dalam suatu pengaruh perubahan-perubahan medan yang kontinyu. Itulah yang dimaksud dengan teori medan dalam psikologi.

2.2     Penggunaan Teori Medan dalam Proses Pembelajaran.

2.2.1  Belajar Sebagai Perubahan dalam Struktur Kognitif.
          Orang belajar akan bertambah pengetahuannya, yang berarti tahu lebih banyak dari pada sebelum belajar. Tahu lebih banyak berarti ruang lingkupnya bertambah luas dan semakin terdiferensikan. Itu semua berarti seseorang akan banyak memiliki fakta yang saling berhubungan.
          Perubahan struktur pengetahuan (struktur kognitif) dapat terjadi karena ulangan, situasi mungkin perlu diulang-ulang sebelum strukturnya berubah. Akan tetapi yang penting bukanlah bahwa ulangan itu terjadi, melainkan ialah bahwa struktur kognitif itu berubah. Dengan pengaturan masalah (problem) yang lebih baik struktur itu mungkin dapat berubah dengan ulangan yang lebih sedikit. Hal ini telah terbukti dalam eksperimen mengenai insigbt. Terlalu banyak ulangan tidak menambah belajar; sebaliknya ulangan itu mungkin menyebabkan kejenuhan psikologi yang dapat membawa kekacauan dan kekaburan dalam struktur kognitif.
          Perubahan dalam struktur kognitif ini untuk sebagai berlangsung dengan prinsip pemolaan dalam pengamatan, jadi di sini terbukti lagi betapa pentingnya pengamatan itu dalam belajar. Perubahan ini disebabkan oleh kekuatan yang telah intrinsik ada dalam struktur kognitif. Tetapi struktur kognitif itu juga berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan yang ada pada individu. Kekuatan psikologi yang bersangkutan dengan suatu kebutuhan dapat berakibat salah satu di antara dua keadaan berikut:
1) Hal itu dapat mengakibatkan locomotion dalam arah kekuatan itu; artinya kebutuhan itu dipuaskan dengan jalan biasa, belajar yang baru tak perlu lagi, dan struktur kognitif tetap baik.
2)  Kekuatan itu dapat mengakibatkan perubahan dalam struktur kognitif sehingga dengan demikian locomotion dimungkinkan; artinya hubungan-hubungan dalam situasi dilihat dengan pandangan (cara) baru, sehingga kebutuhan dapat dipuaskan. Di sinilah terjadi belajar dengan motivasi.
2.2.2  Reward dan Punisment Menurut Interpretasi Kurt Lewin.
          Reward dan Punisment merupakan sarana motivasi yang efektif. Tetapi dalam penggunaannya memerlukan pengawasan. Nilai yang baik bagi peserta didik pada umumnya merupakan sesuatu hal yang diinginkan (hadiah). Tetapi, tugas-tugas dalam belajar untuk mencapai nilai tersebut pada umumnya dianggap sebagai hukuman yang membebani dan kurang menarik.
          Ahli-ahli yang mengikuti/menerima law of effect dan law of reinforcement seringkali menganalisis sampai mengungsur lingkungan atau keadaan yang mendorong pelajar untuk mendekati hadiah dan menjauhi hukuman. Kurt Lewin menggambarkan situasi yang mengandung hadiah atau hukuman itu sebagai suatu yang mengandung konflik.
1) Situasi yang mengandung hukuman.
          Sebagai contoh: Dalam suatu situasi terdapat seseorang yang harus melakukan suatu pekerjaan yang ia tidak suka atau tidak menyenangkan, karena adanya kebutuhan untuk meninggalkan tugas yang tidak menyenangkan itu. Supaya ia tetap dalam pekerjaan itu maka ada ancaman hukuman kalau dia tak mengerjakan.
           Dalam situasi ini seseorang mengalami konflik antara dua hal yang tidak menyenangkan itu, maka  kecenderungannya ialah ia akan meninggalkan situasi yang serba tidak menyenangkan, untuk menghindari dua hal itu. Supaya seseorang tidak meninggalkan medan itu maka harus ada rintangan. Rintangan ini dalam kehidupan biasa adalah kekuasaan, konkretnya lagi, dalam situasi konflik seperti yang digambarkan di atas perlu pengawasan.
2) Situasi yang mengandung hadiah.
          Sebagai contoh : Dalam situasi yang mengandung hadiah tidak perlu lagi seseorang dilakukan pengawasan seperti hal diatas, karena sifat menarik hadiah itu akan menahan pribadi seseorang untuk tetap dalam medan tersebut. Tetapi, tantangan perlu diberikan untuk mencegah supaya seseorang tidak langsung mencapai hadiah tersebut tanpa mengerjakan tugas yang harus dikerjakannya.
          Karena hadiah itu sangat berhubungan dengan aktivitas melaksanakan tugas secara eksternal, maka selalu ada kecenderungan untuk mencari jalan pintas, yaitu mendapatkan hadiah tanpa melaksanakan tugasnya terlebih dahulu. Karena ada kecenderungan hal tersebut, maka haruslah dicegah agar seseorang mendapat hadiah dengan jalan yang tidak seharusnya. Karena itu, disini pengawasan sangat diperlukan, tetapi tidak sekeras pengawasan pada situasi yang mengandung hukuman.
2.2.3  Masalah Sukses dan Gagal.
          Kurt Lewin lebih setuju penggunaan istilah sukses dan gagal dibanding hadiah dan hukuman. Karena, apabila tujuan yang akan dicapai bersifat intrinsik, kita akan lebih tepat mengatakan bahwa suatu tujuan berhasil atau gagal dicapai dari pada mengatakan bahwa suatu tujuan mengandung hadiah dan hukuman.
          Perbedaan antara cara pendekatan psikologi dan nonpsikologis yang lalu menjadi lebih jelas dari pada kalau dipergunakan pengertian hadiah dan hukuman. Sebab secara psikologis memang yang penting adalah bagaimana yang dialami oleh individu di dalam menghadapi sesuatu problem. Suatu pengalaman sukses haruslah dimengerti sesuai dengan apa yang akan dicoba untuk dikerjakan atau dicapai oleh pribadi (pelajar); dan hubungan antara sukses pencapaian tujuan ternyata bukanlah hal-hal yang sederhana. Apabila gejala psikologi mengenai sukses dipandang dari segi si pelajar, setidak-tidaknya mengandung kemungkinan yang  berikut :
1)  Pengalaman sukses dialami bila seseorang benar-benar mendapatkan apa yang diinginkannya. Misalnya, seseorang yang ingin lulus dalam suatu program tertentu, kemudian ternyata memang lulus.
2)  Pengalaman sukses juga dialami apabila seseorang sudah berada di dalam daerah tujuan yang ingin dicapai. Misalnya, orang dikatakan lulus dalam suatu program bila tinggal mengulang beberapa mata kuliah saja.
3) Pengalaman sukses juga dialami apabila orang telah membuat suatu kemajuan ke arah tujuan yang akan dicapai. Misalnya, orang merasa berhasil kalau telah mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi ujian.
4) Pengalaman sukses juga dialami apabila orang telah berbuat dengan cara yang oleh masyarakat dianggap sebagai cara untuk mencapai tujuan. Misalnya, seseorang merasa sukses bila pada waktu ujian keluar paling awal.
Pengalaman sukses atau gagal bersifat individual. Kejadian yang sama mungkin dialami sebagai sukses bagi seseorang, tetapi mungkin tidak demikian bagi orang lain. Contoh, anak yang duduk di kelas I SD tidak bisa menghitung 25 X 25 adalah wajar. Tetapi jika peserta didik tidak bisa, ia akan dianggap gagal.
          Pribadi biasanya membuat tujuan-tujuan sementara dimana ia merasa terlibat atau berkepentingan, merasa hal itu memang soal dia (ada ego-involvement). Secara teknik tujuan sementara ini disebut taraf keinginan atau taraf aspirasi. Tujuan sementara ini sesuai dengan tafsiran individu (pelajar) mengenai prestasinya. Dalam hal ini akan banyak macam ragamnya; sementara pelajaran realistik, dan menetapkan tujuan dekat dengan apa yang dapat dicapainya; sementara lagi tidak realistik dan ada pula yang  menetapkan tujuan sementara itu di bawah kemampuannya.
2.2.4  Sukses Membawa Mobilisasi Energi Cadangan
Kurt Lewin beranggapan “dinamika kepribadian itu dikarenakan oleh adanya energi dalam diri orang, yang disebut energi psikis”.

 Energi psikis inilah yang dipergunakannya untuk bermacam-macam aktivitas, seperti misalnya mengamati, mengingat, berbikir, dan sebagainya. Biasanya, dalam keadaan sehari-hari, hanya sebagian saja dari energi psikis yang dipergunakan, dan sisanya tersimpan sebagai energi cadangan.
         
          Apabila orang mendapatkan pengalamam sukses, maka akan terjadi semacam mobilisasi energi cadangan itu, sehingga kemampuan individu untuk memecahkan problem bertambah atau meningkat. Karena itu secara praktis sangat dianjurkan untuk memberikan sebanyak mungkin kesempatan kepada para anak didik kita supaya mereka mendapatkan pengalaman sukses.

2.3     Manfaat Teori Medan.
          Secara umun Teori Medan memiliki manfaat sebagai motivator bagi peserta didik. Dimana motivasi yang diberikan kepada peserta didik memiliki beberapa tantangan seperti halnya :

2.3.1 Tantangan dalam menjalani  proses pembelajaran sebagai perubahan dalam struktur kognitif. Dimana apabila seseorang belajar, maka dia akan bertambah pengetahuannya. Artinya seseorang tersebut tahu lebih banyak. Lebih banyak dari pada sebelumnya belajar. Dan apa artinya tahu lebih banyak? Ini berarti ruang hidupnya menjadi lebih terdiferensiasikan, leih banyak subregions yang dimilikinya, yang dihubungkan dengan hal-hal tertentu. Dengan kata lain orang tahu lebih banyak tentang fakta-fakta dan saling berhubungan satu sama lainnya antara fakta-fakta itu.
2.3.2  Tantangan dalam proses pembelajaran, karena adanya hadiah dan hukuman. Dimana hadiah dan hukuman merupakan sarana motivasi yang efektif. Tetapi dalam penggunaannya memerlukan pengawasan. Nilai yang baik bagi peserta didik pada umumnya merupakan sesuatu hal yang diinginkan (hadiah). Tetapi, tugas-tugas dalam belajar untuk mencapai nilai tersebut pada umumnya dianggap sebagai hukuman yang membebani dan kurang menarik.
2.3.3  Tantangan akan suatu keberhasilan dan kegagalan dimana seorang peserta didik diharapkan memiliki motivasi untuk melakukan tugasnya. Karena tidak dipungkiri dalam hal ini seorang peserta didik mendapat pengalaman bagaimana sesuatu keberhasilan tersebut dan bagaimana sesuatu kegagalan tersebut. Misalnya mahasiswa yang menempuh ujian tujuannya adalah lulus dalam semua mata ujian yang ditempuhnya, tetapi kadang-kadang orang sudah merasa sukses kalau di hanya harus mengulang satu atau dua mata ujian, karena dengan kejadian ini berarti dia telah ada dalam  daerah yang lebih dekat kepada tujuannya.

BAB III
PENUTUP
3.1     Simpulan
          Dari materi yang telah di uraikan tadi, dapat penulis simpulkan penggunaan teori Medan sangat perlu dan bermanfaat karena teori Medan memberikan seorang pendidik pengetahuan bagaimana yang seharusnya dilakukan dalam suatu proses pembelajaran agar peserta didik mendapat manfaat dari teori ini seperti halnya peserta didik ada motivasi belajar dan peserta didik mengalami proses belajar sebagai perubahan dalam struktur kognitif. Dimana apabila seseorang belajar, maka dia akan bertambah pengetahuannya. Serta peserta didik mempunyai motivasi dalam proses pembelajaran karena adanya reward dan punisment yang merupakan sarana motivasi yang efektif. dan juga seseorang peserta didik mempunyai motivasi untuk melakukan tugasnya sebagai pembelajaran untuk memperoleh tujuan pembelajaran yang diinginkan.
3.2     Kritik dan Saran
          Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Karena kita sebagai calon pendidik sangat perlu mempelajari teori-teori dalam suatu proses pembelajaran yang akan kita gunakan dalam suatu proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA


Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suryabrata, Sumadi. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
.

  




         











Jurnal (Rendahnya Motivasi Belajar, Guru Optimalkan Strategi Pembelajaran)



Jurnal
Rendahnya Motivasi Belajar, Guru Optimalkan Strategi Pembelajaran

Singaraja, 11 November 2013
          Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik, membimbing dan memotifasi siswanya dalam belajar. Siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam belajar. Keberhasilan belajar siswa ditunjang oleh kemampuan seorang guru. Penerapan strategi yang tepat akan meningkatkan keberhasilan belajar siswa.
          Siswa harus memiliki motivasi belajar sendiri. Rendahnya motivasi belajar siswa akan menyulitkan guru untuk menciptakan kelas yang kondusif. Guru lebih mengoptimalkan strategi pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Salah satu sekolah yang siswanya masih memiliki motivasi belajar yang rendah adalah SD N 1 Banjar Tegal khususnya kelas IV pada tahun ajaran 2013-2014.
          Siswa kelas IV disekolah ini sebagian besar mengalami masalah pada saat pembelajaran. Kurang memperhatikan penjelasan guru, kurang antusias mengikuti pembelajaran, sering tidak mengerjakan Tugas, tidak bisa membaca dengan jelas, baik dan lancar. Minimnya motivasi belajar pada siswa, guru berupaya untuk mengoptimalkan strategi pembelajaran, selain strategi, guru juga mengoptimalkan metode yang digunakan pada proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Wali kelas IV (Ni Made Wiwik Andini) mengatakan bahwa siswa-siswi kelas IV memang benar mengalami kesulitan belajar di setiap menerima mata pelajaran di kelas. Tidak hanya wali kelas IV saja yang mengatakan demikian, tetapi juga guru bidang studi yang lain seperti Agama dan Bahasa Bali.
          Faktor-faktor yang mempengaruhi siswa tidak mampu untuk mengikuti pembelajaran disebabkan karena beberapa faktor yaitu internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari diri sendiri, faktor eksternal berasal dari luar (lingkungan rumah, dan lingkungan sekolah), pergaulan siswa dan peranan orang tua. Strategi pembelajaran yang digunakan guru, dengan mencoba atau merubah metode, dengan metode talking stik, media gambar, dengan media tersebut akan dapat memberikan dorongan atau motivasi kepada siswa, yang akan membuat siswa lebih senang mengikuti pelajaran. Para guru harus mampu mengembangkan strategi pembelajaran. Sarana prasarana mesti di sediakan di sekolah agar dapat mendukung siswa dalam belajar. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa yang mengakibatkan rendahnya motivasi belajar dapat dicarikan solusinya.